

Alhamdulillah, meskipun sudah pertengahan bulan syawal, Bu Lik Sulastri, saya dan adik-adik masih ada waktu untuk berkunjung silaturahmi ke rumah Pak Suncoko di Kediri pada hari Sabtu tanggal 18 Syawal 1430 H atau tanggal 10-10-2009. Beliau berdua sehat wal'afiat bahkan ketika kami tiba di sana beliau masih menghadiri acara Halal Bihalal. Mas Yoyok sekeluarga sebenarnya sedang di sana tetapi masih menghadiri manten di Trenggalek, maaf mas Yoyok kami tidak bisa menunggu.....
Foto Keluarga
Connect to :
Blog Archive
-
►
2011
(1)
- ► Jul 3 - Jul 10 (1)
-
►
2010
(11)
- ► Sep 19 - Sep 26 (1)
- ► Apr 25 - May 2 (2)
- ► Apr 4 - Apr 11 (5)
- ► Feb 28 - Mar 7 (1)
- ► Jan 17 - Jan 24 (1)
- ► Jan 3 - Jan 10 (1)
-
►
2009
(30)
- ► Dec 27 - Jan 3 (2)
- ► Dec 20 - Dec 27 (2)
- ► Dec 6 - Dec 13 (1)
- ► Nov 22 - Nov 29 (1)
- ► Nov 1 - Nov 8 (3)
- ► Oct 4 - Oct 11 (1)
- ► Sep 20 - Sep 27 (2)
- ► Sep 6 - Sep 13 (1)
- ► Jul 5 - Jul 12 (3)
- ► Jun 28 - Jul 5 (1)
- ► May 24 - May 31 (9)
- ► Apr 5 - Apr 12 (1)
- ► Mar 8 - Mar 15 (1)
- ► Feb 22 - Mar 1 (2)
Saturday, October 10, 2009
Silaturahmi ke Pak Suncoko
Saturday, September 26, 2009
Mas Yoyok dan keluarga
Pak Suntjoko sekalian diderekne Mas Yoyok dan keluarga silaturahmi dengan keluarga Madiun dan Ponorogo pada tgl 8 Syawal 1430H atau 27 September 2009. Foto di atas diambil di rumah Bu Sulastri Madiun, karena Pak Sun sekalian sare di rumah Bu Puh Sri Purworejo.
Supriadi dari Pangkalanbun
Supriadi adalah putra ke-4 Lik Pur yang sekarang menetap di Pangkalanbun Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Sudah dikaruniai 2 puteri yang cantik-cantik yaitu Indah dan Shintia. Foto di atas diambil ketika mereka bersilaturahmi ke tanah kelahirannya yaitu di Desa Banaran(foto bawah). Sayang sekali Indah tidak ikut sehingga yang ada di foto itu hanya Shintia saja. Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholehah. Amin. Foto atas : di rumah Pak Sudarmawan.
Wednesday, September 9, 2009
Gempa Jawa
Tgl 2 september09 kurang lebih jam 15.00 an saya terbangun dari tidur siang di bulan ramadan yg panas (insyaalloh ibadah). Saya berdiri msh dlm posisi setengah sadar kepala terasa ngliyeng sy pikir krn kurang zat gula krn puasa,tp meja komputer di dpn sy bergoyang mulut spontan berucap : gempa!sy lari keluar lupa meninggalkan Dahniar yg tidur di sampingku. sy tersadar stelah melihat di luar banyak tetangga yg sdh berhamburan. Aku baru ingat langsung kuangkat anakku yg blm terbangun kubawa keluar tp kondisi sdh normal.Bersamaan itu terdengar kumandang adzan masuk waktu ashar. Tanda2 kekuasaan Alloh tlah dinampakkan saat bumi bergoncang bayi disusui terlepas dari pangkuan ibunya, sbgian tanda dari berita besar di saat akhir zaman.Mari kita tengok Alquran surat Al-Zalzalah
Tuesday, July 7, 2009
Pak Basuki telah tiada
Almarhum pak Basuki telah pulang ke rahmatulloh di Lampung pada hari Ahad Kliwon tanggal 14 Juni 2009. Almarhum adalah putera ke-4 Mbah Soedjarwo. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Alloh SWT dan diampuni segala dosanya. Dan yang penting semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Amin ya robbal'alamin.
baca semua...Monday, July 6, 2009
Note Pak Suko di FB
Jawa Pos Selasa 21 April 2009
Pilih Mana: Koalisi atau Isi Kuali?
Oleh : Suko Widodo *
Sekalipun hasil penghitungan suara pemilihan legislatif belum usai, gairah parpol untuk menghadapi pemilihan presiden tak terbendung. Ini setidaknya tecermin dari upaya parpol dan sejumlah elite politik untuk membangun koalisi atau persekutuan kekuatan polititk.
Pileg seakan dianggap sudah selesai. Wacana koalisi terasa lebih mengedepan ketimbang menyoal pelanggaran pileg lalu. Merebut kekuasaan seolah lebih penting daripada usaha memenuhi janji yang pernah ditaburkan tatkala kampanye.
Inikah cermin politik Indonesia? Demi kekuasaan, perseteruan menjadi persahabatan, dan sebaliknya, persahabatan menjadi permusuhan. Yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang mungkin bisa menjadi tidak mungkin. Maka, benarlah adagium politik: tak ada lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi.
Manuver-manuver sejumlah elite politik berkait dengan koalisi memperlihatkan sikap "nggege-mangsa" atau sikap keberlebihan harapan terhadap kekuasaan. Hasil pileg belum tuntas, sudah memikirkan peluang kekuasaan lainnya. Dan rakyat selaku pemberi mandat seakan-akan tidak dihiraukan. Tetap saja, rakyat tidak mendapat apa-apa. Demokrasi akhirnya tidak lebih dari "mainan" para penguasa politik.
Koalisi Berbasis Individu
Koalisi yang dikembangkan parpol saat ini ditujukan untuk menghadapi pemilihan presiden pada 8 Juli nanti. Dengan adanya persekutuan kekuatan politik tersebut, para elite politik berharap bisa berbagi kue kekuasaan dalam pemerintahan jika kandidat yang dijagokan memenangkan pilpres.
Tindakan berkoalisi itu dilakukan karena memang pileg lalu belum menghasilkan sebuah parpol yang menang secara mayoritas. Padahal, untuk mengikutkan kandidatnya dalam pilpres, menurut undang-undangnya, sebuah parpol harus meraih 25 persen suara atau 20 persen kursi di parlemen.
Koalisi memang merupakan sesuatu yang lumrah dalam dunia politik. Koalisi dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan atau kabinet dari partai yang memiliki suara di parlemen. Secara umum ada dua jenis koalisi; yaitu koalisi yang didasarkan pada keinginan mencapai tujuan yang hendak dicapai (policy-based coalitions) dan koalisi yang tidak didasarkan atas pertimbangan kebijakan (policy blind coalitions).
Koalisi yang pertama menekankan kesamaan dalam orientasi kebijakan. Koalisi model ini bertujuan mewujudkan kebijakan sesuai kepentingan partai. Koalisi semacam ini memiliki loyalitas tinggi karena diikat oleh kesamaan tujuan kebijakan. Sedangkan koalisi kedua, yang tidak didasarkan pada pertimbangakn kebijakan, lebih menekankan prinsip ukuran/perolehan suara. Orientasi tujuannya memaksimalkan kekuasaan. Bentuk koalisi semacam ini tidak terlampau menjamin loyalitas anggota parpol yang bergabung.
Saat ini, di Jakarta -sebagai pusat kekuasaan politik- elite sibuk mengembangkan blok koalisi. Ada dua blok yang populer, blok M (kelompok Megawati) dan blok S (Susilo Bambang Yudhoyono). Dari manuver komunikasi politik yang mengemuka, proses bangunan koalisi masih belum final. Sekalipun demikian, sudah mulai tampak bahwa koalisi mengarah kepada dominasi person atau individu dan bukan orientasi partai.
Terlihat dari komunikasi politik yang berlangsung bahwa demi merebut kekuasaan, orientasi atau platform partai pun diabaikan. Yang penting menang dan menang, serta meraih kekuasaan.
Koalisi versus Isi Kuali
Terasa ironis, tatkala rakyat masih berkutat menunggu janji para politisi untuk mengisi "kuali" (kebutuhan makan), sementara para elite malah bersibuk memikirkan kekuasaan.
Saat ini, rakyat butuh pekerjaan. Meningkatnya PHK bisa menggambarkan betapa sulitnya kondisi kehidupan rakyat. Mereka butuh makan dan butuh masa depan. Mereka sama sekali tidak butuh kekuasaan. Tetapi, jika kemudian parpol beserta elitenya sibuk berebut kekuasaan, maka ini benar-benar sikap yang tidak berteladan.
Tradisi politik memang berkutat pada kekuasaan. Tetapi, bukankah lebih baik manakala para elite politik memberikan apresiasi terhadap kesediaan rakyat yang baru saja memilih. Lebih dari itu, akan lebih baik pula manakala elite politik memikirkan dan merumuskan kebijakan yang bakal dilakukan untuk mengisi "kuali" dan mengisi kebutuhan hidup rakyat.
Janganlah rakyat dibutuhkan di saat pemilihan. Ketika kampanye, begitu banyak taburan janji dari politisi. Tetapi ketika pemilihan sudah selesai, rakyat dianggap sesuatu yang tidak penting.
Pilpres memang penting. Dan itu wajib dirumuskan para elite polititk. Tetapi, jangan kemudian pilpres dianggap segala-galanya, kemudian mengabaikan problem yang dihadapi rakyat. Jika parpol dan politisi mengabaikan suara dan harapan rakyat, jangan kaget jika nanti rakyat juga akan mengabaikan mereka.
*. Suko Widodo, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga
Sunday, July 5, 2009
Note Pak Suko di FB
Jawa Pos: Rabu, 08 April 2009
Menunggu Hasil Para Penjual Baliho
Suko Widodo
VOX populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Suara itulah yang kini amat dinanti-nantikan kehadirannya oleh para calon legislatif. Dalam penantian yang serba tak pasti, kemungkinan besar para caleg berada dalam keadaan resah dan gelisah.
Sistem pemilihan kali ini memang membuat pusing para caleg. Dengan sistem suara terbanyak, kini semua caleg memiliki peluang yang sama untuk merebut kursi. Sebelum putusan Mahkamah Konstitusi dengan pola suara terbanyak, caleg dengan nomor urut atas/kecil berpeluang besar dipilih. Tapi, kini mereka tidak bisa melenggang dengan mudah. Sementara itu, untuk yang bernomor urut besar alias nomor sepatu, keputusan tersebut membuat mereka mendapatkan angin surga karena punya peluang sama dengan nomor urut atas/kecil.
Bagi pemilih, pemilihan kali ini terasa rumit dan sulit. Rumit karena jumlah caleg yang dipilih sangat banyak. Sulit karena pemilih harus memiliki kemampuan literasi (baca tulis). Yang tak biasa membaca dan menulis berpotensi besar untuk keliru dalam mencontreng.
Akibat kondisi demikian, hasil pemilihan kali ini memang sulit diduga. Setidaknya, itu sudah terbukti. Antarlembaga survei juga punya persepsi yang beda-beda dalam menakar kekuatan suara.
Komunikasi Politik Instan
Kemampuan literasi pemilih berandil besar dalam menentukan hasil pemilihan. Pengalaman dalam sejumlah simulasi membuktikan, kebanyakan pemilih masih bingung dan keliru memilih. Itu yang membuat pusing caleg.
Framing pesan yang dibangun selama masa kampanye para caleg, ternyata, tak cukup kuat menancapkan pengetahuan cara mencontreng/memilih. Padahal, para caleg bukan hanya sudah mengampanyekan cara mencontreng, tetapi juga membangun relasi langsung dengan pemilih. Jika kemudian pada hari pemilihan para pemilih masih kebingungan dan tak yakin, memang hasil pemilihan itu seperti sebuah misteri yang susah diprediksi.
Ada dua hal yang mengakibatkan terjadi kondisi itu. Pertama, telah terjadi luberan komunikasi (over-communication). Sepanjang 10 bulan terakhir, masyarakat digempur dengan ratusan ribu pesan politik. Mulai bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, seluruh pancaindra disentuh oleh pesan polititik.
Media massa hingga media personal (seperti ponsel) dipenuhi dengan ajakan mendukung caleg. Saking melubernya pesan, pemilih bingung. Apalagi pesan yang berkembang relatif seragam/sama. Sementara itu, pemilih bersifat mudah lupa (cognitive misser). Mestinya, kreativitas pesan kampanye harus benar-benar memiliki pembeda daripada yang lainnya jika ingin dikenang pemilih. Jika tidak kreatif, akan terjadi peluang distorsi informasi. Apa yang sudah dipesankan caleg menjadi tidak sesuai dengan yang pemilih lakukan di bilik suara.
Kedua, para caleg dan parpol mengembangkan komunikasi politik relatif instan. Mereka melakukan pendekatan kepada konstituen hanya saat-saat menjelang pemilihan dilakukan. Jadi, yang dilakukannya bukan komunikasi politik (karena kalau komunikasi politik berlangsung dua arah), tetapi lebih banyak melakukan marketing polititk (yang sifatnya searah).
Komunikasi politik sebagai modal sosial untuk membangun relasi tidak bisa dilakukan sesaat (instan). Padahal, kekuatan relasi itulah yang bisa menentukan perolehan suara.
Pileg kali ini hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi para parpol dan politisi ataupun mereka yang hendak membangun kekuasaan politik. Sistem politik modern harus ditata dengan cara-cara yang rasional dan realistis. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemasangan baliho belaka, apalagi mengandalkan jasa paranormal.
Bukan Ndaru
Kekuasaan politik modern adalah sebuah prestasi usaha. Kekuasaan bukanlah seperti ”ndaru” (hadiah) yang jatuh dari langit. Kekuasaan politik modern juga bukanlah sebuah warisan. Ia harus disiapkan dan ditata dalam waktu yang tidak pendek.
Dalam zaman demokrasi yang belum utuh ini, ada sejumlah persoalan besar untuk meraih ‘’suara Tuhan”. Ketika para pemilih yang punya kuasa suara itu masih memandang suaranya sebagai komoditas uang atau sembako, makna politik menjadi terdegragasi. Politik menjadi kurang bermartabat. Demokrasi terkesan tidak berkualitas.
Pekerjaan besar yang tersisa dari berbagai proses pemilihan selama ini memerlukan penataan sungguh-sungguh. Bukan hanya urusan parpol, tetapi semua pihak. Sejumlah politik pragmatis yang selama ini dijalankan oleh beberapa pihak wajib dihapuskan. Sebab, itu tak akan pernah bermanfaat manakala pemilihan dilakukan dengan cara-cara tidak sehat.
Ke depan, advokasi politik bersih harus terus dikumandangkan agar Indonesia bisa menjalankan demokrasi yang bermartabat. Semoga Pileg 2009 berlangsung dengan damai. Sebab, memang hasil suara itu adalah suara yang telah ditentukan Tuhan. Janganlah resah dan gelisah. Selamat berpasrah.
Suko Widodo, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga
Sumber: Jawa Pos: Rabu, 08 April 2009
Saturday, July 4, 2009
Note Pak Suko di FB
Jum'at, 27 Februari 2009
Iklan yang Membangunkan Keyakinan Pemilih
Oleh Suko Widodo *
Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 sudah ramai. Suara dan pidato para kandidat wakil rakyat sudah menggema di mana-mana. Merasuki di setiap sudut bumi di mana manusia berada. Di jalan, bisa disaksikan berderet-deret baliho dan spanduk. Di radio, terdengar kata-kata sakti akan kesejahteraan. Di televisi, tertayang keindahan harapan masa depan. Di koran, foto wajah mereka terpampang indah. Pendek kata, kini tiada hari tanpa iklan. Semua dilakukan dengan satu pesan: pilihlah aku!
Kegairahan kandidat itu adalah cermin kesadaran akan pentingnya makna komunikasi. Iklan adalah wujud tindakan komunikasi yang berfungsi membawa pesan. Melalui iklan, publik akan mengenalinya. Asumsinya, dengan mengenal, orang akan punya kemungkinan memilih.
Asumsi tidaklah selalu sama dengan realitas. Sebab, sesungguhnya keputusan orang memilih ditentukan berbagai faktor. Bukan melulu iklan belaka. Meski demikian, iklan menjadi bagian penting dari tahap proses seseorang mengambil keputusan memilih. Ada sejumlah faktor yang harus dilalui jika seorang kandidat ingin meraup dukungan suara.
Tahapan Memilih
Orang mengambil keputusan dengan yakin manakala dia memiliki sejumlah informasi yang cukup. Jadi, rujukan yang dijadikan seseorang memilih adalah seperangkat informasi. Dan, iklan berfungsi memberikan informasi. Tetapi, tidak semua informasi dari iklan mampu membuat orang yakin. Bisa-bisa malah sebaliknya, menolak pesan iklan yang dibuat. Apalagi, iklan itu tidak masuk akal dan tidak menarik.
Dalam konsep komunikasi, orang mengambil keputusan bertindak manakala mampu melewati lima tahap. Tahap yang paling awal dilalui adalah pengenalan (awareness). Selanjutnya, setelah kenal, apakah seseorang itu punya ketertarikan (interest). Sampai di sini, masih berlanjut, apakah seseorang itu punya minat (desire)?
Iklan dalam posisi keputusan memilih berada di tahap awal. Tetapi, iklan yang menarik bisa mencapai tahap ketiga (menumbuhkan minat). Sekalipun demikian, andai kandidat ini dengan produk iklannya mencapai tahap yang bisa membangkitkan minat pemilih, belumlah selesai. Sebab, pemilih bisa mengatalan: "Oh ya, saya kenal lewat iklan. Iklannya menarik dan saya berminat dengan apa yang kandidat tawarkan. Tetapi, untuk memilih, tunggu dulu.''
Karena itu, kandidat harus melewati tahap keempat, yakni keyakinan (conviction). Jika pemilih sudah yakin, pasti dijamin pemilih itu akan memberikan dukungan suara. Dukungan diwujudkan dalam tahap kelima, yakni tahap tindakan (action). Dalam ini, tindakan memilih di bilik suara nantinya. Karena itu, untuk meraup dukungan suara tidaklah cukup bermodal iklan belaka. Diperlukan cara-cara lain dalam mewujudkan bangunan keyakinan pemilih.
Bangunan Keyakinan
Membangun keyakinan tidaklah mudah. Keyakinan muncul sebagai akibat serangkaian tindakan-tindakan dari kandidat yang berelasi dengan keberadaan pemilih. Itulah ikhwal terpenting dari tahap orang mengambil keputusan memilih. Sekali lagi, iklan hanyalah tahap awal dan merupakan salah satu cara pengenalan. Karena itu, proses relasi (hubungan dan komunikasi) secara langsung menjadi penting dan harus dilakukan antara kandidat dan pemilih.
Dari proses relasi itulah, pemilih bisa menemukan makna atau nilai keyakinan. Tetapi, yang menjadi soal adalah nilai keyakinan itu. Sebab, saat ini kebanyakan pemilih bersikap pragmatis. Nilai keyakinan acapkali dimaknai dengan nilai ekonomis, seperti uang, sembako, kaus, dan sejenisnya.
Itulah problem besar yang melanda demokrasi di Indonesia. Meski politik uang (money politics) jelas-jelas dilarang, itu masih saja berkembang. Dalam posisi ini, akhirnya kita menjadi gamang karena mereka yang benar-benar layak menjadi wakil rakyat harus tergusur oleh kekuatan modal uang.
Saya meyakini bahwa uang diperlukan dalam proses menuju ke ajang pemilihan. Tetapi, mengandalkan uang belaka bukanlah jaminan utama. Sebab, saya meyakini bahwa masih banyak pemilih yang punya hati. Masih punya harapan terhadap kandidat wakil rakyat yang benar-benar akan bekerja untuk rakyat.
Dan, iklan setidaknya adalah cermin dari nilai yang ditawarkan kandidat yang bermanfaat bagi pemilih untuk mempertimbangkan keyakinannya. Beriklanlah yang menarik agar dilirik. Buatlah pesan yang masuk akal agar pemilih punya bekal. Serta kembangkanlah relasi agar pemilih mendukung secara pasti.
*. Suko Widodo, dosen pada program studi komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair
Tuesday, May 26, 2009
Keluarga Sriwening / Kamsi Tjiptoutomo
Anak ke-1
Nama : Sriwening
TTL : Madiun, 1930
Suami : Kamsi Tjiptoutomo (Alm.)
TTL : Madiun, 1925
Alamat : Ds Purworejo, Kec. Geger, Kab Madiun
Telepon :
Anak-anak :
1. Titik Ediarti
2. Budi Santoso
3. Sugeng Setiyoso (almarhum)
4. Rini....
5. Suko Widodo
6. Endang Sukesi
7. Kukuh Budiharto
Keluarga Soentjoko / Fatimah

Soentjoko
- Lahir di Madiun, 14 Juni 1932
- Istri: Fatimah
- Lahir di Bojonegoro, 16 Juni 1937
- Alamat: Jalan Karyatani 37, Waung, Kediri 64114.
- Telepon:
- Anak: empat orang
1. Djoko Kuntjoro (Kokok)
Lahir: Madiun, 23 November 1961
Istri: Dyah ...(Ipung)
Lahir:
Anak: Putri Keiko (Putri)
Alamat: Pangkalan Bun
2. Setyo Nugroho (Yoyok)
Lahir: Tuban, 20 Oktober 1965
Istri: Sri Herlin Rusminiwati
Kediri, 20 Novermber 1969
Anak:
a. Dipto Pratomo Nugroho (Dipto)
Lahir: Surabaya, 13 Januari 1999
b. Saraswati Puspito Nugroho (Saras)
Lahir: Berlin, 30 Januari 2001
3. Lukito Juwono (Luki)
Lahir: Tuban, 24 Agustus 1967
Istri : Eko Wahyu...(Dining)
Anak: 3 orang
a. (Andin)
b. (Gadang)
c. (Sasha)
4. Naning Fatmandari Lukitaningsih (Naning)
Lahir: Tuban, 22 Agustus 1973 baca semua...
Keluarga Soelastri / Soelih Setyo Atmodjo
Anak ke-3
Nama/TTL : Soelastri/Madiun, 13-4-1935
Nama Suami : Soelih Setyo Atmodjo (Alm)/ Madiun, Agustus 1933. Wafat 11-8-1983
Alamat : Jl Jalak II No. 8 Madiun
Telepon :
Anak-anak :
1. Joko Witono, Madiun 10-11-1956
Alamat : Jl. Gunung Rinjani Hop2 No. 119
Komplek PT Badak NGL Bontang Kaltim 75324
Telepon/hp :
Isteri : Anjar Sukesi Ponorogo,
Anak :
a. Vita Esiana Widayanti / Bontang, 28-04-1986
b. Ayu Dwitiyas / Bontang, 24-03-1989
2. Joko Setiyanto (Totok), Madiun 27-7-1958
Alamat : Perumnas Manisrejo II Madiun
Telepon :
Isteri : Titik Sarijani, Madiun 14-6-1967
Anak :
a. Ristika Noviandari, Madiun 9-11-1992
b. Noval Wahyu Risdiyanto, Madiun 5-8-2000
3. Joko Setiyono, SPd (Genok), Madiun, 6-4-1960
Alamat : Jl Ploso No. 70 Madiun
Telepon/hp :
Isteri : Indarsih Ismunarti, Madiun, 6-10-1959
Anak : Arlyna Kristyanti, Madiun, 28-12-1993
4. Joko Prasetyo Wihadi, Madiun, 13-5-1962
Alamat : Jl Jalak II No. 8 Madiun
Telepon :
Isteri : Endah Murniati, Madiun, 26-5-1971
Anak-anak :
a. Ellyza Andreas Woro, Madiun, 26-1-2002
b. Damar Andreas Surya Prakasa, Madiun, 30-12-2007
5. Joko Setyarso / Madiun, 7-7-1964
Alamat : Jl. Margobawero IX/8 Madiun
Telepon :
Isteri : Sri Nur'aini, Madiun, 5-7-1967
Anak-anak :
a. Kurniawan Setya Perdana, Madiun, 7-3-1997
b. Aprillia Cahyani Putri, Madiun, 24-4-2002
c. Bunga Rizki Cahyani Putri, Madiun, 22-5-2007
6. Wahyu Sulistyaningsih, Madiun, 2-8-1966
Alamat : Jl Kertomanis 39 Perumnas I Madiun
Telepon :
Suami : Edi Siswanto, Kediri, 26 Nopember 1959
Anak-anak :
a. Deliyanda Savira, Madiun,30-6-1995
b. Kinta Putri Yuwanda, Madiun, 16-1-1998
7. Wahyu Setyo Utami (Yayuk) Almarhumah
Meninggal tanggal 11-8-1992
8. Bambang Supranowo Budiutomo, Madiun 1-10-1974
Alamat : Ponorogo
Telepon :
Isteri : Wulansari, Poonorogo 11-1-1983
Anak : Raditya Arya Dewa Prameswara, Madiun 2-6-2006
Keluarga Basuki /Artiyani
Nama : Basuki Effendi (almarhum)
TTL : Madiun, 11 Juli 1938 (Meninggal 14 Juni 2009)
Isteri : Artiyani, Jakarta/25 Januari 1955
Alamat : Perumahan Kopkar Dwi Karya Blok D2/9 Lampung Tengah
Anak-anak :
1. Wahyu Lestari, Balikpapan/1 April 1977
Suami : Agus Pranoto, Lampung/28-09-1974
Telepon/hp :
2. Siswi Utami, Balikpapan/26 Agustus 1979
Telepon/hp :
3. Rukmini, Balikpapan/ 07-07-1983
Suami : Aries Suryo Widodo, Lampung/28-04-1983
Telepon/hp :
4. Esti Handayani, Balikpapan/19-05-1986
Telepon/hp :
5. Ria Yuliani, Balikpapan/19-07-1988
Telepon/hp :
Keluarga Purwantini / Sayuti
Anak ke 5
Nama : Purwantini
TTL : Madiun, 1940
Alamat : Jl. Pilangsari 57 Purbosuman Ponorogo
Anak-Anak :
1. Sudarmawan, Madiun/21-11-1959
Alamat : Jl. Pilangsari 57, Purbosuman, Ponorogo
Telepon/hp :
Isteri : Maryuni, Ponorogo/17-2-1968
Anak-anak :
a. Eva Yuliana, Ponorogo/28-7-1990
b. Danang Setyo Wicaksono, Ponorogo/15-12-1994
2. Hari Subagyo
3. Heru Sutomo
4. Supriadi, Madiun/11-8-1968
Alamat : Pangkalabun, Kalteng
Telepon/hp :
Isteri : Sutinem, Kediri/1-6-1974
Anak-anak :
a. Indah Fitri Lestari, Pangkalanbun/26-4-1990
b. Fernanda Ayu Shintia, Pangkalanbun/22-9-2002
5. Wanti
Keluarga Umiati / Prawoto
Anak ke-6
Nama : Umiati / Madiun, 16-6-1943
Alamat : Jl. Dr. Sutomo 10-c Ponorogo
Suami : Parwoto (alm)/ Ponorogo, 17-5-1936
Anak-anak :
1. Sri Utaminingsih (Piping) / Ponorogo, 15-9-1963
Alamat : Perumda Keniten G 27/28 Ponorogo
Suami : Suryo Pangarso / Surabaya, 29-10-1962
Anak-anak :
a. Lita Yuanita Pangastami (almh)/Ponorogo, 20-6-1984
Alamat/tlp : Ponorogo
Suami : Duta....
Anak : Reyhan...
b. Ian Suryo Utomo / Ponorogo, 8-1-1991
c. Diajeng Ayu Pangastami / Ponorogo, 1-12-1992
2. Endang Kuswati / Ponorogo, 3-9-1964
Alamat : Bangli, Bali
Suami : I Wayan Sunga / Bangli, 31-12-1953
Anak-anak :
a. Putu Widiarsa Kurniawan / Bangli, 7-10-1985
b. Ni Made Widiandari Ayuningtyas / Bangli,24-3-1997
3. Anang Koestanto / Ponorogo, 27-7-1966
Alamat : Jl Anggrek IX No. 6 Situbondo, Jatim
Isteri : Prasetyaning Astuti Mahayu Aryawati
Situbondo, 3-2-1976
Anak-anak :
a. Muhammad Yusuf Azizi / Situbondo,28-6-2000
b. Hanifah Umi Zahra / Situbondo,6-9-2002
c. Zaidan Ridha Arrafi, Situbondo, 20-12-2006
4. Reny Kushartati / Ponorogo, 21-3-1968
Alamat : Jl. Terusan Ijen Malang
Suami : Armei Yanto / Malang, 28-5-1969
Anak-anak :
a. Arya Kharisma Pradana / Ponorogo,4-1-1993
b. Kharisma Bintang Anoegra / Malang,12-3-2001
c. Bella Kharisma Putri / Malang,16-1-2007
Keluarga Darmadi / Aning Is Purwati
Anak ke-7
Drs, S Darmadji Adji / Madiun, 20-8-1947
Alamat : Jl. Madukoro 38 Somoroto, Ponorogo
Telepon/hp :
Isteri : Aning Is Purwati / Ponorogo,5-5-1948
Anak-Anak :
1. Diana Endarwati, SE / Ponorogo, 28-9-1971
Alamat : Perumda Keniten, Ponorogo.
Telepon/hp :
Suami : Eko Budi Widjojo, SE / Surabaya,20-6-1970
Anak : Dita Ekasari / Ponorogo, 25-4-1997
2. Kurniawan Jeni Arifin, ST / Ponorogo,8-6-1975
Alamat : Perumda Keniten, Ponorogo.
Telepon/hp :
Isteri : Dian Ratnasari, SPd / Madiun, 15-3-1980
Anak : Daffa Berlian Prameswari / Ponorogo, 28-6-2008
Pesan Keluarga :
Profile
- Markoem Setyo Soedjarwo
- Madiun, Jawa Timur, Indonesia
- Pasangan MS Soedjarwo (Mbah Kung) dan Insarjinah (Mbah Uti) mempunyai 7 anak kandung, 1 anak angkat dan puluhan anak asuh, mempunyai kira2 40 cucu, puluhan buyut dan beberapa canggah. Mbah Kung wafat pada tanggal 3-6-1975 dan Mbah Uti menyusul pada tanggal 22-5-1983. Almarhum dan almarhumah dimakamkan di Desa Banaran, Geger, Madiun. Di desa ini beliau puluhan tahun mencurahkan tenaga dan pikiran sebagai pendidik sampai pensiun.
Visitor's Counter
Analog Clock
Kalender H & M
Komentar tentang Blog ini
Pesan dan Kesan
Translator E-I dan I-E
Translator
Daftar Isi :
- 0. Kata Pengantar (1)
- 1. Keluarga Sriwening (1)
- 2. Keluarga Soentjoko (1)
- 3. Keluarga Soelastri (1)
- 4. Keluarga Basuki (1)
- 5. Keluarga Purwantini (1)
- 6. Keluarga Umiati (1)
- 7. Keluarga Darmadji (1)
- 8. Keluarga Ismadi (1)
- Alhamdulillah ketemu Joko (1)
- Anak cucu Pak Dhe Sukat (Kejuron) (1)
- Anak-anak Karbitan (1)
- Bill Gates dan Xerox (1)
- Fenomena Orgonite (1)
- Foto di dalam Ka'bah (1)
- Gempa Jawa (1)
- Haji Djoko Witono (1)
- Haji Sudjiono (1)
- Hanoman dan Shinta (1)
- Hikmah baca Al-Qur'an (1)
- Info pendaftaran Telkom (1)
- Jadwal Piala Dunia 2010 (1)
- Keutamaan Al-Qur'an (1)
- Kiat Sukses dan Sehat (1)
- Labbaika Allohumma Labbaika.... (1)
- Mas Yoyok dan keluarga (1)
- Masjid Nabawi (1)
- Mbak Dian dadi manten (1)
- Membuat Orgonite (1)
- Menukar Rupiah dengan Riyal (1)
- Pak Bas wafat (1)
- Rumah Petak Milik Nabi (1)
- Silaturahmi di rumah Bu Win Budiman (1)
- Silaturahmi ke rumah Pak Suncoko (1)
- SP2010 (1)
- Suko Widodo's Note (1) (1)
- Suko Widodo's Note (2) (1)
- Suko Widodo's Note (3) (1)
- Supriadi (1)
- Terapi Air Putih (1)
- The Burj Dubai (1)
- UU Lalin 22/2009 (1)