Wednesday, December 23, 2009

Haji Djoko Witono



Alhamdulillah, Pak Djoko Witono sekalian telah selesai menunaikan rukun Islam yang ke-5 (terakhir) yaitu ibadah haji ke Mekkah. Juga telah ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW di Madinah. Foto di atas kalau tidak salah waktu di Masjidil Haram Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Foto2 lain dapat dilihat di Slideshow Aktivitas Keluarga. Semoga Pak Haji Djoko Witono sekalian menjadi haji/hajjah yang mabrur. Bagi yang belum segera mendapat kesempatan untuk menunaikannya. Amin ya robbal 'alamin. (Purwanto)

baca semua...

Sunday, December 20, 2009

Alhamdulillah ketemu Joko


Juni 2007, sebelum bertolak ke Singapore dan Malaysia, saya sempatkan mampir Batam dan ketemu adikku Joko dengan kedua anaknya, sayang tidak ketemu isterinya karena sedang keluar. Desember 2009, dia ke Surabaya karena dapat tugas mengawal dan mengontrol container di Pelabuhan Tanjung Perak dan disempatkan mampir Gresik dan Madiun. Kita do'akan semoga ini pertanda baik, makin meningkat rejeki dan juga meningkat imannya. Amin. (Kiriman : Purwanto)

baca semua...

Saturday, December 12, 2009

Silaturahmi di rumah Bu Win Budiman






Pada hari Sabtu, tanggal 12-12-2009 Bu Win Budiman mengundang keluarga untuk bersilaturahmi di rumahnya, Ngegong, Madiun(sebelah timur SMAN3 Madiun). Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar meskipun karena satu dan lain hal ada yang tidak bisa hadir. Mohon maaf kalau ada yang tidak kejepret, maklumlah bagian dokumentasinya belum profesional. Foto2 lain dapat dilihat di slide show Foto Aktivitas Keluarga.

baca semua...

Monday, November 23, 2009

Ada apa di dalam Ka'bah



Jangankan untuk masuk ke dalam Ka'bah, untuk mencium hajar aswad saja sangat sulit memerlukan kesabaran dan perjuangan mental dan phisik. Untuk ibu2 disarankan melihat dari jauh saja, karena sangat berat dan resikonya malah berdosa. Misalnya saya pernah melihat seorang ibu nekad sampai terlepas jilbabnya juga sebagian mukenanya, ini sama dengan membuka aurat di depan ka'bah, berdosa !, na'udzubillahi min dzalik.
Subhanalloh walhamdulillah, saya mendapat sebuah foto di dalam ka'bah dari seorang teman (foto di atas). Untuk masuk ka'bah adalah suatu mission impossible. Keluarga Presiden Suharto pernah diijinkan oleh Raja Fath masuk ka'bah. Kalau kita cukuplah melihat fotonya.... (kiriman : Purwanto)

baca semua...

Thursday, November 5, 2009

Selamat Jalan & Selamat Datang


Tahun ini (2009) bulan Oktober ada 2 peristiwa. Pertama ada beberapa saudara kita menunaikan rukun Islam ke 5, ibadah haji. Mas Witono beserta istri Mbak Kesi(putra bulik Sulastri) dan mas Siswanto beserta istri Mbak Puji(putra bu puh Piyah Djaidi) . Kami, Kesi Gatot sklg mengucapkan selamat jalan,selamat menunaikan ibadah haji untuk menyempurnakan ibadah kita sbg orang muslim. Mudah mudahan menjadi haji nan mabhrur dan bisa menjadi inspirasi bagi kami dan seluruh klg besar Soedjarwo untuk segera bisa menyusul jejak mas Witono dan mas Siswanto . Selamat jalan sampai ketemu lagi doa kami mudah2an diberi kemudahan dan kelancaran dalam menunaikan haji. Amiin.......

Peristiwa kedua tgl 27 Oktober 2009 adik Bambang sklg( putra bulik Soelastri) pindah tugas dari Lampung menuju kota Tangerang. Karena jarak tinggal kami yang jauh sehingga kami tidak sempat membantu dan menyambut kepindahan mereka. Hari kerja di Jakarta terlalu padat untuk menempuh perjalanan se-Jabodetabek sehigga saya dan mas Gatot hanya memantau by phone. Alhamdulillah Bambang sdh bisa mengatasinya. Yang semula klg di Madiun sangat mengkhawatirkan Bambang sbg anak ragil. I think Bambang sudah dewasa pasti bisa membereskan. Selamat datang Bambang sklg. Mudah2 cepat untuk beradaptasi dg Megapolitan yg sarat dg permasalahan yg sangat kompleks. Selamat belajar kehidupan Jakarta dan sekitarnya. Dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Welcame to Jakarta. Endang Sri Sukesi.

baca semua...

Monday, November 2, 2009

Rumah Petak Milik Nabi


Kamis, 19 November 2009 | 13:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bersujud di depan makam Nabi Muhammad SAW rasanya seperti tersedot magnet raksasa. Ada rasa haru yang mengiris-iris. Bukan kesakralan makam itu yang membuat banyak orang--termasuk saya--sesenggukan. Bukan pula tawaran pahala yang dijanjikan bila salat di Raudah--wilayah antara makam Nabi dan mimbar khutbah di Masjid Nabawi--yang membuat tubuh ini lunglai. Tapi, bayangan betapa sederhananya rumah Nabi itulah mata kami sembab.

Makam itu persis ada di rumah Nabi dulu. Rumah yang mungil. Bahkan, rumah tipe 21 pun masih lebih luas dari rumah Nabi. Ukurannya mungkin sama dengan rumah-rumah petak yang ada di Jakarta. Rumah itu kini masuk dalam bagian Masjid Nabawi dan hanya ditutup ukiran kayu. Di dalam rumah itu ada makam Nabi, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Nabi yang diagungkan itu--bahkan para malaikat pun tak henti membaca shalawat untuknya--ternyata hidup jauh dari standar sederhana. Tak ada AC atau penghangat saat angin dingin membekukan Madinah. Tak ada kasur empuk atau spring bed. Tak ada sofa mewah atau kursi ukiran yang melingkar-lingkar. Tak ada kemewahan seperti yang ditawarkan Electrolux, King Koil, Panasonic, Avanza, atawa Lexus. Juga tak ada keindahan seperti yang disodorkan Dolce & Gabbana, Gucci.

Umar pernah minta izin menemui Nabi SAW. Ia melihat beliau sedang berbaring di atas tikar kasar terbuat dari pelepah Tamar. Sebagian tubuh Nabi tampak berada di atas tanah. Dia juga cuma berbantalkan pelepah kurma. Umar pun menangis.

"Mengapa engkau menangis?" Nabi bertanya. Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membuat bekas pada tubuhmu. Engkau ini Nabi Allah dan kekasihNya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar lainnya duduk di singgasana emas dan bantalnya sutera".

Mungkin ingatan cerita ini membuat tubuh saya dan orang-orang di sekitar saya menggigil dan menangis. Teringat garis-garis bekas pelepah di pipi Nabi. Lalu melayang lagi percakapan Nabi dan Umar.

Nabi pun menasehati Umar, "Mereka (kaisar dan orang kaya) telah menyegerakan kesenangannya. Itu akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan yang nantinya kita pakai untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia adalah seperti orang yang bepergian pada musim panas. Sejenak berlindung di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya. "

Kata Nabi lagi, sisakan kesenangan di dunia ini untuk bekal akherat. Dalam sepekan, tahanlah nafsu, lapar dan haus, paling tidak dua hari. Lakukan shaum senin-kamis. Dua puluh empat jam sehari, sisakan waktu satu-dua jam untuk sholat fardlu dan membaca al-Qur'an. Delapan jam waktu tidur, buanglah barang 15 menit saja untuk sholat tahajud.

"Celupkan tanganmu ke dalam lautan," ujar Nabi Saw ketika sahabat yang bertanya tentang perbedaan dunia dan akherat. "Air yang menempel di jarimu itulah dunia. Sisanya adalah akherat".

Bayangan cerita itu semakin membuat kami ini tak sanggup mengangkat kepala dari sujud di depan makam Nabi. Duh Gusti, ampuni kami.

baca semua...

Agar Tak Buntung Saat Menukar Rupiah ke Riyal


Informasi ini dapat dipakai oleh jama'ah haji tahun depan (yang akan datang), karena jama'ah tahun ini sudah di tanah suci, bahkan saat ini mereka sudah mempersiapkan wuquf di Arafah.
Selasa, 27 Oktober 2009 | 16:57 WIB, TEMPO Interaktif, Jakarta: Menukar uang untuk bekal pergi haji ke Arab Saudi itu gampang-gampang susah. Kalau tak hati-hati bisa-bisa kita terbentur pada harga Riyal yang mahal. Saat ini normalnya, satu Riyal setara dengan Rp 2.540. Namun, saat musim haji seperti sekarang ini di money-changer biasanya mencapai satu Riyal = Rp 2.700 atau bahkan Rp 3.000. Bagaimana agar kita mendapatkan kurs Riyal yang murah?

1. Usahakan tukar tidak dekat musim haji. Semakin dekat musim haji, maka akan semakin mahal kurs Riyal

2. Kalau terpaksa menukar di musim haji, tukarlah Rupiah di Indonesia, bukan di Arab Saudi. Di Arab harga satu riyal bisa setara dengan Rp 3.000 sampai Rp 3.300. Di Tanah Suci biasanya kursnya lebih mahal kecuali kita bisa menukar ke sesama jemahaan haji dengan "harga pertemanan."

3. Hindari menukar uang di embarkasi atau di bandara keberangkatan. Kurs satu Riyal biasanya sudah mulai tinggi sekitar Rp 2.700 hingga Rp 3.000 bahkan bisa lebih.

4. Lebih baik menukar di money changer besar, bukan agen di jalan-jalan.

5. Beberapa jemaah haji yang pintar mereka menukar rupiah dengan pergi ke bandara Soekarno Hatta di Terminal kedatangan TKI. "Di sana kursnya dua bulan sebelum haji bisa murah, hingga Rp 2.500," kata seorang jemaah haji.

6. Bila terpaksa menukar Rupiah di Tanah Suci, akan lebih murah bila kita menukar dengan sesama jemaah haji yang sudah akan pulang ke Indonesia. Mereka biasanya akan banting harga karena berpikir lebih baik bawa pulang rupiah ketimbang Riyal.

Selamat berburu Riyal.BS

baca semua...

Saturday, October 10, 2009

Silaturahmi ke Pak Suncoko



Alhamdulillah, meskipun sudah pertengahan bulan syawal, Bu Lik Sulastri, saya dan adik-adik masih ada waktu untuk berkunjung silaturahmi ke rumah Pak Suncoko di Kediri pada hari Sabtu tanggal 18 Syawal 1430 H atau tanggal 10-10-2009. Beliau berdua sehat wal'afiat bahkan ketika kami tiba di sana beliau masih menghadiri acara Halal Bihalal. Mas Yoyok sekeluarga sebenarnya sedang di sana tetapi masih menghadiri manten di Trenggalek, maaf mas Yoyok kami tidak bisa menunggu.....

baca semua...

Saturday, September 26, 2009

Mas Yoyok dan keluarga


Pak Suntjoko sekalian diderekne Mas Yoyok dan keluarga silaturahmi dengan keluarga Madiun dan Ponorogo pada tgl 8 Syawal 1430H atau 27 September 2009. Foto di atas diambil di rumah Bu Sulastri Madiun, karena Pak Sun sekalian sare di rumah Bu Puh Sri Purworejo.

baca semua...

Supriadi dari Pangkalanbun



Supriadi adalah putra ke-4 Lik Pur yang sekarang menetap di Pangkalanbun Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Sudah dikaruniai 2 puteri yang cantik-cantik yaitu Indah dan Shintia. Foto di atas diambil ketika mereka bersilaturahmi ke tanah kelahirannya yaitu di Desa Banaran(foto bawah). Sayang sekali Indah tidak ikut sehingga yang ada di foto itu hanya Shintia saja. Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholehah. Amin. Foto atas : di rumah Pak Sudarmawan.

baca semua...

Wednesday, September 9, 2009

Gempa Jawa

Tgl 2 september09 kurang lebih jam 15.00 an saya terbangun dari tidur siang di bulan ramadan yg panas (insyaalloh ibadah). Saya berdiri msh dlm posisi setengah sadar kepala terasa ngliyeng sy pikir krn kurang zat gula krn puasa,tp meja komputer di dpn sy bergoyang mulut spontan berucap : gempa!sy lari keluar lupa meninggalkan Dahniar yg tidur di sampingku. sy tersadar stelah melihat di luar banyak tetangga yg sdh berhamburan. Aku baru ingat langsung kuangkat anakku yg blm terbangun kubawa keluar tp kondisi sdh normal.Bersamaan itu terdengar kumandang adzan masuk waktu ashar. Tanda2 kekuasaan Alloh tlah dinampakkan saat bumi bergoncang bayi disusui terlepas dari pangkuan ibunya, sbgian tanda dari berita besar di saat akhir zaman.Mari kita tengok Alquran surat Al-Zalzalah. Beberapa menit kemudian di Tv sdh ada berita dari BMG bahwa telah terjadi gempa tektonik yg smula berpotensi syunami di 30 km barat daya Tasikmalaya Jabar .Jarak yg beribu mil dari tempat saya Jakarta Selatan sangat terasa. Gempa dg kekuatan 7,2 skala rikter. Pdhl kata pak ustad itu baru disentil sama Alloh SWT, bagaimana klu sudah digulung, Allohu Akbar. Alhamdulillah kita telah diberi peringatan untuk selalu mengingat Nya bertepatan bulan ramadan yg penuh berkah rahmat dan ampunan. Mudah2an kita klg besar Soedjarwo selalu mendapatkan rahmat dan hidayah Nya dan selalu ditetapkan iman. Selamat menjalankan ibadah puasa dan kita raih kemenangan di hari yg fitri. Mohon maaf lahir batin. Mohon doanya jg untuk perjalanan mudik kami

baca semua...

Tuesday, July 7, 2009

Pak Basuki telah tiada

Almarhum pak Basuki telah pulang ke rahmatulloh di Lampung pada hari Ahad Kliwon tanggal 14 Juni 2009. Almarhum adalah putera ke-4 Mbah Soedjarwo. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Alloh SWT dan diampuni segala dosanya. Dan yang penting semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran. Amin ya robbal'alamin.

baca semua...

Monday, July 6, 2009

Note Pak Suko di FB

Jawa Pos Selasa 21 April 2009

Pilih Mana: Koalisi atau Isi Kuali?
Oleh : Suko Widodo *

Sekalipun hasil penghitungan suara pemilihan legislatif belum usai, gairah parpol untuk menghadapi pemilihan presiden tak terbendung. Ini setidaknya tecermin dari upaya parpol dan sejumlah elite politik untuk membangun koalisi atau persekutuan kekuatan polititk.

Pileg seakan dianggap sudah selesai. Wacana koalisi terasa lebih mengedepan ketimbang menyoal pelanggaran pileg lalu. Merebut kekuasaan seolah lebih penting daripada usaha memenuhi janji yang pernah ditaburkan tatkala kampanye.

Inikah cermin politik Indonesia? Demi kekuasaan, perseteruan menjadi persahabatan, dan sebaliknya, persahabatan menjadi permusuhan. Yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang mungkin bisa menjadi tidak mungkin. Maka, benarlah adagium politik: tak ada lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi.

Manuver-manuver sejumlah elite politik berkait dengan koalisi memperlihatkan sikap "nggege-mangsa" atau sikap keberlebihan harapan terhadap kekuasaan. Hasil pileg belum tuntas, sudah memikirkan peluang kekuasaan lainnya. Dan rakyat selaku pemberi mandat seakan-akan tidak dihiraukan. Tetap saja, rakyat tidak mendapat apa-apa. Demokrasi akhirnya tidak lebih dari "mainan" para penguasa politik.

Koalisi Berbasis Individu
Koalisi yang dikembangkan parpol saat ini ditujukan untuk menghadapi pemilihan presiden pada 8 Juli nanti. Dengan adanya persekutuan kekuatan politik tersebut, para elite politik berharap bisa berbagi kue kekuasaan dalam pemerintahan jika kandidat yang dijagokan memenangkan pilpres.

Tindakan berkoalisi itu dilakukan karena memang pileg lalu belum menghasilkan sebuah parpol yang menang secara mayoritas. Padahal, untuk mengikutkan kandidatnya dalam pilpres, menurut undang-undangnya, sebuah parpol harus meraih 25 persen suara atau 20 persen kursi di parlemen.

Koalisi memang merupakan sesuatu yang lumrah dalam dunia politik. Koalisi dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan atau kabinet dari partai yang memiliki suara di parlemen. Secara umum ada dua jenis koalisi; yaitu koalisi yang didasarkan pada keinginan mencapai tujuan yang hendak dicapai (policy-based coalitions) dan koalisi yang tidak didasarkan atas pertimbangan kebijakan (policy blind coalitions).

Koalisi yang pertama menekankan kesamaan dalam orientasi kebijakan. Koalisi model ini bertujuan mewujudkan kebijakan sesuai kepentingan partai. Koalisi semacam ini memiliki loyalitas tinggi karena diikat oleh kesamaan tujuan kebijakan. Sedangkan koalisi kedua, yang tidak didasarkan pada pertimbangakn kebijakan, lebih menekankan prinsip ukuran/perolehan suara. Orientasi tujuannya memaksimalkan kekuasaan. Bentuk koalisi semacam ini tidak terlampau menjamin loyalitas anggota parpol yang bergabung.

Saat ini, di Jakarta -sebagai pusat kekuasaan politik- elite sibuk mengembangkan blok koalisi. Ada dua blok yang populer, blok M (kelompok Megawati) dan blok S (Susilo Bambang Yudhoyono). Dari manuver komunikasi politik yang mengemuka, proses bangunan koalisi masih belum final. Sekalipun demikian, sudah mulai tampak bahwa koalisi mengarah kepada dominasi person atau individu dan bukan orientasi partai.

Terlihat dari komunikasi politik yang berlangsung bahwa demi merebut kekuasaan, orientasi atau platform partai pun diabaikan. Yang penting menang dan menang, serta meraih kekuasaan.

Koalisi versus Isi Kuali
Terasa ironis, tatkala rakyat masih berkutat menunggu janji para politisi untuk mengisi "kuali" (kebutuhan makan), sementara para elite malah bersibuk memikirkan kekuasaan.
Saat ini, rakyat butuh pekerjaan. Meningkatnya PHK bisa menggambarkan betapa sulitnya kondisi kehidupan rakyat. Mereka butuh makan dan butuh masa depan. Mereka sama sekali tidak butuh kekuasaan. Tetapi, jika kemudian parpol beserta elitenya sibuk berebut kekuasaan, maka ini benar-benar sikap yang tidak berteladan.

Tradisi politik memang berkutat pada kekuasaan. Tetapi, bukankah lebih baik manakala para elite politik memberikan apresiasi terhadap kesediaan rakyat yang baru saja memilih. Lebih dari itu, akan lebih baik pula manakala elite politik memikirkan dan merumuskan kebijakan yang bakal dilakukan untuk mengisi "kuali" dan mengisi kebutuhan hidup rakyat.

Janganlah rakyat dibutuhkan di saat pemilihan. Ketika kampanye, begitu banyak taburan janji dari politisi. Tetapi ketika pemilihan sudah selesai, rakyat dianggap sesuatu yang tidak penting.
Pilpres memang penting. Dan itu wajib dirumuskan para elite polititk. Tetapi, jangan kemudian pilpres dianggap segala-galanya, kemudian mengabaikan problem yang dihadapi rakyat. Jika parpol dan politisi mengabaikan suara dan harapan rakyat, jangan kaget jika nanti rakyat juga akan mengabaikan mereka.

*. Suko Widodo, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga

baca semua...

Sunday, July 5, 2009

Note Pak Suko di FB

Jawa Pos: Rabu, 08 April 2009
Menunggu Hasil Para Penjual Baliho
Suko Widodo

VOX populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Suara itulah yang kini amat dinanti-nantikan kehadirannya oleh para calon legislatif. Dalam penantian yang serba tak pasti, kemungkinan besar para caleg berada dalam keadaan resah dan gelisah.

Sistem pemilihan kali ini memang membuat pusing para caleg. Dengan sistem suara terbanyak, kini semua caleg memiliki peluang yang sama untuk merebut kursi. Sebelum putusan Mahkamah Konstitusi dengan pola suara terbanyak, caleg dengan nomor urut atas/kecil berpeluang besar dipilih. Tapi, kini mereka tidak bisa melenggang dengan mudah. Sementara itu, untuk yang bernomor urut besar alias nomor sepatu, keputusan tersebut membuat mereka mendapatkan angin surga karena punya peluang sama dengan nomor urut atas/kecil.

Bagi pemilih, pemilihan kali ini terasa rumit dan sulit. Rumit karena jumlah caleg yang dipilih sangat banyak. Sulit karena pemilih harus memiliki kemampuan literasi (baca tulis). Yang tak biasa membaca dan menulis berpotensi besar untuk keliru dalam mencontreng.

Akibat kondisi demikian, hasil pemilihan kali ini memang sulit diduga. Setidaknya, itu sudah terbukti. Antarlembaga survei juga punya persepsi yang beda-beda dalam menakar kekuatan suara.

Komunikasi Politik Instan
Kemampuan literasi pemilih berandil besar dalam menentukan hasil pemilihan. Pengalaman dalam sejumlah simulasi membuktikan, kebanyakan pemilih masih bingung dan keliru memilih. Itu yang membuat pusing caleg.

Framing pesan yang dibangun selama masa kampanye para caleg, ternyata, tak cukup kuat menancapkan pengetahuan cara mencontreng/memilih. Padahal, para caleg bukan hanya sudah mengampanyekan cara mencontreng, tetapi juga membangun relasi langsung dengan pemilih. Jika kemudian pada hari pemilihan para pemilih masih kebingungan dan tak yakin, memang hasil pemilihan itu seperti sebuah misteri yang susah diprediksi.

Ada dua hal yang mengakibatkan terjadi kondisi itu. Pertama, telah terjadi luberan komunikasi (over-communication). Sepanjang 10 bulan terakhir, masyarakat digempur dengan ratusan ribu pesan politik. Mulai bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, seluruh pancaindra disentuh oleh pesan polititik.

Media massa hingga media personal (seperti ponsel) dipenuhi dengan ajakan mendukung caleg. Saking melubernya pesan, pemilih bingung. Apalagi pesan yang berkembang relatif seragam/sama. Sementara itu, pemilih bersifat mudah lupa (cognitive misser). Mestinya, kreativitas pesan kampanye harus benar-benar memiliki pembeda daripada yang lainnya jika ingin dikenang pemilih. Jika tidak kreatif, akan terjadi peluang distorsi informasi. Apa yang sudah dipesankan caleg menjadi tidak sesuai dengan yang pemilih lakukan di bilik suara.

Kedua, para caleg dan parpol mengembangkan komunikasi politik relatif instan. Mereka melakukan pendekatan kepada konstituen hanya saat-saat menjelang pemilihan dilakukan. Jadi, yang dilakukannya bukan komunikasi politik (karena kalau komunikasi politik berlangsung dua arah), tetapi lebih banyak melakukan marketing polititk (yang sifatnya searah).

Komunikasi politik sebagai modal sosial untuk membangun relasi tidak bisa dilakukan sesaat (instan). Padahal, kekuatan relasi itulah yang bisa menentukan perolehan suara.

Pileg kali ini hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi para parpol dan politisi ataupun mereka yang hendak membangun kekuasaan politik. Sistem politik modern harus ditata dengan cara-cara yang rasional dan realistis. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemasangan baliho belaka, apalagi mengandalkan jasa paranormal.

Bukan Ndaru
Kekuasaan politik modern adalah sebuah prestasi usaha. Kekuasaan bukanlah seperti ”ndaru” (hadiah) yang jatuh dari langit. Kekuasaan politik modern juga bukanlah sebuah warisan. Ia harus disiapkan dan ditata dalam waktu yang tidak pendek.

Dalam zaman demokrasi yang belum utuh ini, ada sejumlah persoalan besar untuk meraih ‘’suara Tuhan”. Ketika para pemilih yang punya kuasa suara itu masih memandang suaranya sebagai komoditas uang atau sembako, makna politik menjadi terdegragasi. Politik menjadi kurang bermartabat. Demokrasi terkesan tidak berkualitas.

Pekerjaan besar yang tersisa dari berbagai proses pemilihan selama ini memerlukan penataan sungguh-sungguh. Bukan hanya urusan parpol, tetapi semua pihak. Sejumlah politik pragmatis yang selama ini dijalankan oleh beberapa pihak wajib dihapuskan. Sebab, itu tak akan pernah bermanfaat manakala pemilihan dilakukan dengan cara-cara tidak sehat.

Ke depan, advokasi politik bersih harus terus dikumandangkan agar Indonesia bisa menjalankan demokrasi yang bermartabat. Semoga Pileg 2009 berlangsung dengan damai. Sebab, memang hasil suara itu adalah suara yang telah ditentukan Tuhan. Janganlah resah dan gelisah. Selamat berpasrah.

Suko Widodo, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga
Sumber: Jawa Pos: Rabu, 08 April 2009

baca semua...

Saturday, July 4, 2009

Note Pak Suko di FB

Jum'at, 27 Februari 2009
Iklan yang Membangunkan Keyakinan Pemilih
Oleh Suko Widodo *

Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 sudah ramai. Suara dan pidato para kandidat wakil rakyat sudah menggema di mana-mana. Merasuki di setiap sudut bumi di mana manusia berada. Di jalan, bisa disaksikan berderet-deret baliho dan spanduk. Di radio, terdengar kata-kata sakti akan kesejahteraan. Di televisi, tertayang keindahan harapan masa depan. Di koran, foto wajah mereka terpampang indah. Pendek kata, kini tiada hari tanpa iklan. Semua dilakukan dengan satu pesan: pilihlah aku!

Kegairahan kandidat itu adalah cermin kesadaran akan pentingnya makna komunikasi. Iklan adalah wujud tindakan komunikasi yang berfungsi membawa pesan. Melalui iklan, publik akan mengenalinya. Asumsinya, dengan mengenal, orang akan punya kemungkinan memilih.

Asumsi tidaklah selalu sama dengan realitas. Sebab, sesungguhnya keputusan orang memilih ditentukan berbagai faktor. Bukan melulu iklan belaka. Meski demikian, iklan menjadi bagian penting dari tahap proses seseorang mengambil keputusan memilih. Ada sejumlah faktor yang harus dilalui jika seorang kandidat ingin meraup dukungan suara.

Tahapan Memilih
Orang mengambil keputusan dengan yakin manakala dia memiliki sejumlah informasi yang cukup. Jadi, rujukan yang dijadikan seseorang memilih adalah seperangkat informasi. Dan, iklan berfungsi memberikan informasi. Tetapi, tidak semua informasi dari iklan mampu membuat orang yakin. Bisa-bisa malah sebaliknya, menolak pesan iklan yang dibuat. Apalagi, iklan itu tidak masuk akal dan tidak menarik.

Dalam konsep komunikasi, orang mengambil keputusan bertindak manakala mampu melewati lima tahap. Tahap yang paling awal dilalui adalah pengenalan (awareness). Selanjutnya, setelah kenal, apakah seseorang itu punya ketertarikan (interest). Sampai di sini, masih berlanjut, apakah seseorang itu punya minat (desire)?

Iklan dalam posisi keputusan memilih berada di tahap awal. Tetapi, iklan yang menarik bisa mencapai tahap ketiga (menumbuhkan minat). Sekalipun demikian, andai kandidat ini dengan produk iklannya mencapai tahap yang bisa membangkitkan minat pemilih, belumlah selesai. Sebab, pemilih bisa mengatalan: "Oh ya, saya kenal lewat iklan. Iklannya menarik dan saya berminat dengan apa yang kandidat tawarkan. Tetapi, untuk memilih, tunggu dulu.''

Karena itu, kandidat harus melewati tahap keempat, yakni keyakinan (conviction). Jika pemilih sudah yakin, pasti dijamin pemilih itu akan memberikan dukungan suara. Dukungan diwujudkan dalam tahap kelima, yakni tahap tindakan (action). Dalam ini, tindakan memilih di bilik suara nantinya. Karena itu, untuk meraup dukungan suara tidaklah cukup bermodal iklan belaka. Diperlukan cara-cara lain dalam mewujudkan bangunan keyakinan pemilih.

Bangunan Keyakinan
Membangun keyakinan tidaklah mudah. Keyakinan muncul sebagai akibat serangkaian tindakan-tindakan dari kandidat yang berelasi dengan keberadaan pemilih. Itulah ikhwal terpenting dari tahap orang mengambil keputusan memilih. Sekali lagi, iklan hanyalah tahap awal dan merupakan salah satu cara pengenalan. Karena itu, proses relasi (hubungan dan komunikasi) secara langsung menjadi penting dan harus dilakukan antara kandidat dan pemilih.

Dari proses relasi itulah, pemilih bisa menemukan makna atau nilai keyakinan. Tetapi, yang menjadi soal adalah nilai keyakinan itu. Sebab, saat ini kebanyakan pemilih bersikap pragmatis. Nilai keyakinan acapkali dimaknai dengan nilai ekonomis, seperti uang, sembako, kaus, dan sejenisnya.

Itulah problem besar yang melanda demokrasi di Indonesia. Meski politik uang (money politics) jelas-jelas dilarang, itu masih saja berkembang. Dalam posisi ini, akhirnya kita menjadi gamang karena mereka yang benar-benar layak menjadi wakil rakyat harus tergusur oleh kekuatan modal uang.

Saya meyakini bahwa uang diperlukan dalam proses menuju ke ajang pemilihan. Tetapi, mengandalkan uang belaka bukanlah jaminan utama. Sebab, saya meyakini bahwa masih banyak pemilih yang punya hati. Masih punya harapan terhadap kandidat wakil rakyat yang benar-benar akan bekerja untuk rakyat.

Dan, iklan setidaknya adalah cermin dari nilai yang ditawarkan kandidat yang bermanfaat bagi pemilih untuk mempertimbangkan keyakinannya. Beriklanlah yang menarik agar dilirik. Buatlah pesan yang masuk akal agar pemilih punya bekal. Serta kembangkanlah relasi agar pemilih mendukung secara pasti.

*. Suko Widodo, dosen pada program studi komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair

baca semua...